Minggu, 19 Juli 2009

Bom dan Gagalnya MU Bertandang ke Indonesia

Jojo Raharjo

Sangat jarang menyaksikan seorang Susilo Bambang Yudhoyono marah besar pada Jum’at siang (17/7) lalu. Sebagai seorang presiden, Yudhoyono pantas ngamuk besar atas terjadinya peristiwa bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton pagi harinya. Bom yang merusak nama besar Indonesia dan pemeritahannya, meledak di tengah-tengah proses penghitungan suara pilpres, dan hanya sehari menjelang kedatangan tim sepakbola elit Manchester United datang ke Jakarta. Impian menyaksikan juara Liga Inggris tiga kali berturut-turut itu pun musnah. Bahkan, MU memutuskan dua kali tampil di Malaysia, yang sampai sekarang diyakini sebagai negara asal biang teroris Noordin M. Top.

Dalam pernyataannya yang sempat tertunda tiga jam itu, Yudhoyono sampai bersumpah akan mengusut kasus ini sampai pelakunya tertangkap hidup atau mati. “Dengan aksi-aksi teror yang keji dan tidak bertanggungjawab ini, apa yang telah kita bangun hampir lima tahun terakhir ini oleh kerja keras dan tetesan keringat seluruh rakyat Indonesia, lagi-lagi harus mengalami goncangan dan kemunduran. Lagi-lagi dampak buruknya harus dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia, minus mereka-mereka yang melakukan tindakan yang tidak bertanggungjawab itu. Oleh karena itu kebenaran dan keadilan serta tegaknya hukum harus diwujudkan,” ujarnya.
.
“Saya bersumpah, demi rakyat Indonesia yang sangat saya cintai, negara dan pemerintah akan melaksanakan tindakan yang tegas, tepat, dan benar terhadap pelaku pemboman ini, berikut otak dan penggeraknya, ataupun kejahatan-kejahatan lain yang mungkin atau dapat terjadi di negeri kita sekarang ini,” Presiden menegaskan. Kepada Polri, TNI, BIN, termasuk kepada Gubernur, Bupati, dan Walikota, Presiden Yudhoyono meminta untuk terus meningkatkan kewaspadaan, terus berusaha keras mencegah aksi-aksi teror.

Presiden meminta jajaran penegak hukum mencari, menangkap, dan mengadili para pelaku, para penggerak, dan otak di belakang kekerasan ini. “Barangkali ada diantara kita, yang diwaktu yang lalu melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang barangkali dan para pelaku itu masih lolos dari jeratan hukum, kali ini negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negeri kita,” katanya.

Di awal sambutannya, Yudhoyono menyinggung peristiwa ledakan yang terjadi di saat proses pemilu belum selesai. Kejadian yang sangat merusak keamanan dan kedamaian di negeri ini juga terjadi ketika rakyat sungguh menginginkan suasana yang tetap aman, tenang, dan damai. Dan justru rakyat ingin agar selesainya pemilihan umum 2009 ini, kita semua segera bersatu membangun kembali negara kita untuk kepentingan rakyat Indonesia,” Yudhoyono menjelaskan.

“Terus terang juga, aksi pengeboman ini terjadi ketika rakyat merasa prihatin atas kegaduhan politik di tingkat elite, disertai --sebagaimana yang saya ikuti tiap hari-- ucapan-ucapan yang bernada menghasut dan terus memelihara suhu yang panas dan penuh dengan permusuhan. Itu sesungguhnya bukan menjadi harapan rakyat setelah mereka semua melaksanakan kewajiban demokrasinya beberapa saat yang lalu,” kecam Yudhoyono.

“Saya harus mengatakan untuk pertama kalinya kepada rakyat Indonesia, bahwa dalam rangkaian Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden serta Wakil Presiden tahun 2009 ini, memang ada sejumlah intelijen yang dapat dikumpulkan oleh pihak yang berwenang. Sekali lagi ini memang tidak pernah kita buka kepada umum, kepada publik, meskipun terus kita pantau dan ikuti. Intelegen yang saya maksud adalah adanya kegiatan kelompok teroris yang berlatih menembak dengan foto saya, foto SBY dijadikan sasaran. Dijadikan sasaran tembak,” lanjutnya.

Presiden kemudian menunjukkan beberapa lembar foto yang menggambarkan seseorang berpakaian hitam-hitam dengan penutup kepala sedang berlatih menembak. Sasaran yang digunakan penembak adalah foto Yudhoyono. Ada tanda hitam di wajah Yudhoyono, sebagai tanda sasaran tembak.

Presiden mendapatkan laporan intelijen ini beberapa saat yang lalu. Ada rencana dari kelompok teroris untuk melakukan kekerasan dan tindakan melawan hukum berkaitan dengan hasil Pemilu. Ada pula rencana untuk pendudukan paksa KPU, pada saat nanti hasil pemungutan suara diumumkan. "Ada pernyataan, akan ada revolusi jika SBY menang. Ini intelijen, bukan rumor, bukan isu, bukan gosip. Ada pernyataan, kita bikin Indonesia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan, bagaimanapun juga SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu. Dan puluhan intelijen lagi yang sekarang berada di pihak yang berwenang,” SBY menjelaskan.

Pernyataan yang mengaitkan bom dengan Pemilu, langsung menuai protes berbagai pihak. Jusuf Kalla, Megawati, Prabowo sampai Fuad Bawazier menuding Yudhoyono ngawur. Prabowo minta bertemu untuk mengklarifikasi pernyataan itu, tapi Yudhoyono belum merespons permohonan ini.

Jadi, mana yang benar? Teror untuk menggagalkan kedatangan MU demi merosotnya citra Indonesia di mata dunia? Buah perampokan uang Rp 15 miliar di Bank BNI beberapa waktu lalu? Atau benar kata dugaan untuk menjadikan Indonesia seperti Iran?

Mari kita tunggu sumpah presiden untuk menangkap drakula itu. Sehingga, pidato panjang itu bukan sebuah pencitraan belaka…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar