Tampilkan postingan dengan label Timnas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Timnas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2011

Kembalikan Timnas sebagai sekumpulan pemain terbaik Indonesia.


Pelatih Tim Nasional Indonesia, Alfred Riedl mengumumkan 25 pemain Timnas Pra Piala Dunia 2014 dan 25 pemain Timnas U-23 untuk gelaran Piala AFF Junior. Berita besarnya kembali menyorot ogahnya Riedl memanggil pemain ber-KTP Liga Primer Indonesia (LPI). Termasuk Irfan Bachdim.

Produk LPI tak hanya Irfan Bachdim, selebritis bola kita yang selalu jadi sasaran utama kamera, tapi juga sederet nama lain. Ada Kim Jefry (Persema), Syamsul Arif (Persibo), Sansan Fauzi, Hendra Bayauw (Jakarta FC), Rendy Kurniawan, Taufik, Andik Vermansyah (Persebaya), dan nama-nama lain.

Alasannya tegas: LPI belum diakui oleh PSSI –dan FIFA tentunya. Bahasa kerasnya lagi: LPI ilegal. "Pemain-pemain seperti Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey akan mendapat kesempatan yang sama jika status LPI sudah jelas," kata Wolfgang Pikal, pria asal Austria yang kembali menjadi asisten Riedl.

Tentu ini sebuah vonis yang menyakitkan bagi LPI, yang saat ini tengah dalam proses duduk semeja dengan Komite Normalisasi. Bahkan, LPI sampai menunda perhelatan putaran keduanya begitu lama, dari rencana Juni menjadi September nanti. Selain menunggu bulan puasa dan Lebaran lewat, faktor utamanya tak lain karena menanti hasil Kongres PSSI dan keabsahan mereka.

Atas belum jelasnya status pemain LPI, Riedl mengaku siap mengubah keputusannya setelah Kongres 9 Juli mendatang. Dengan demikian, jika kongres menghalalkan LPI, maka para pemain produk LPI bisa dipanggil tampil dua melawan Turkmenistan, 23 dan 28 Juli nanti.

Yang lucu lagi, Deputi Bidang Teknis BTN, Iman Arif menegaskan pemanggilan untuk timnas senior dan U-23 diundur, dari jadwal semula 3 Juli, menjadi setelah kongres PSSI. “Pemanggilan ini juga menunggu hasil Kongres 9 Juli mendatang,” kata Iman.

Belajar pada Sejarah

Tim nasional Indonesia dan organisasi PSSI menang tak bisa dipisahkan. Tapi, seharusnya urusan tim nasional tak harus terkait dengan, sedikit-sedikit, menunggu hasil kongres. Namanya Timnas Indonesia adalah gabungan pemain terbaik ber-KTP Indonesia, di manapun ia bermain.

Jangan sampai kisah Piala Dunia 1938 –yang dalam beberapa kesempatan kita bangga-banggakan itu- terulang lagi. Hingga saat ini, itulah satu-satunya kesempatan Indonesia tampil di supremasi sepakbola tertinggi dunia. Padahal, tim yang berangkat ke Perancis itu merupakan tim boneka bentukan pemerintah Hindia Belanda, dan bukan tim Indonesia sebenarnya. Indonesia yang tampil dalam sejarah Piala Dunia adalah Indonesia abal-abal.

Pengiriman kesebelasan Nederlandsche East Indies pada Piala Dunia 1938 sempat menjadi masalah. Pasalnya, NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Indonesia bersitegang dengan PSSI yang sudah berdiri sejak April 1930. PSSI yang saat itu masih dipimpin pendirinya, Ir. Soeratin, ingin agar pemain PSSI yang dikirimkan ke Perancis.

Namun, akhirnya yang dikirimkan adalah kesebelasan berbendera NIVU, karena PSSI belum diakui FIFA. Pemain-pemainnya pun bukan pemain PSSI, tapi mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda.
Sekali bertanding, langkah kesebelasan Hindia Belanda hanya sampai di babak penyisihan, karena dipertandingan pertama dikalahkan oleh Hungaria dengan skor 0-6. Hungaria sendiri akhirnya sampai di partai puncak, meski hanya mampu menjadi runner up karena dikalahkan Italia yang menjadi juaranya.

Timnas adalah tim terbaik berisi pemain-pemain terbaik berpaspor Indonesia. Tak peduli liganya sempat beroposisi dengan PSSI, mereka adalah produk terbaik sebuah kompetisi profesional. Maka, kembalikan pemain-pemain terbaik Indonesia dalam deretan pemain berkostum garuda yang membela panji merah-putih menuju Piala Dunia Brazil 2014.

Kalau tidak, jangan salahkan jika Turkmenistan bakal menjelma menjadi Hungaria baru bagi tim Indonesia abal-abal. Sekali main, langsung angkat koper…

Minggu, 20 Februari 2011

Supporter Indonesia, Bersatulah!

PSSI menodai noda fair play, sebuah slogan yang selalu dikampanyekan dalam bendera FIFA setiap pertandingan akan berlangsung.

Apa lagi yang harus dikatakan saat Ketua Komite Pemilihan Syarif Bastaman menggelar konferensi pers hasil verifikasi kandidat Ketua Umum, Wakil Ketua Umum dan Executive PSSI yang akan dipilih dalam Kongres PSSI 26 Maret mendatang?

Dari 4 calon Ketua Umum, Syarif Bastaman menyatakan hanya Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie yang layak lolos verifikasi, sementara Arifin Panigoro dan George Toisutta –yang dilambangkan sebagai simbol perlawanan terhadap status quo PSSI- dinyatakan tidak lolos pencalonan tanpa alasan jelas.

Pun kedua nama itu tak lolos sebagai kandidat Wakil Ketua Umum saat Syarif mengumumkan hasil kerja timnya di kantor PSSI, kompleks Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (19/2/2011) pukul 17.40 WIB.

Gagal lolosnya Arifin dan George sontak menimbulkan perlawanan. Dunia maya, twitter dan facebook, pun mengeluarkan makian terhadap kroni Nurdin yang dinilai menghalalkan cara demi mencapai kursi kepemimpinan seri ketiganya.

Skenario lain: Nurdin dianggap tidak berani tampil fair dalam duel head to head dua lawan dua (Nurdin bersama Nirwan melawan Arifin dan George) saat penghitungan suara Kongres Bali bulan depan. Maklum, kuat dugaan pasangan Arifin dan George mendapat dukungan dari KONI, Partai Demokrat, Menteri Pemuda dan Olahraga, serta bahkan Presiden sendiri.

Selama ini, pasal yang dinilai mengganjal George dan Arifin yakni keharusan minimal 5 tahun aktif di sepakbola nasional. Padahal, George ngotot selalu menjadi Pembina PSAD selama karir militernya. Sementara itu, Arifin tak asing dikenal sebagai penggagas Liga Medco, sebuah ajang pembinaan sepakbola dini mencari atlet bola berbakat.

Adapun Nurdin, santer diberitakan bakal terganjal karena tindak kriminal yang pernah dibuatnya. Namun, PSSI memelintir Statuta FIFA Dalam statuta fifa yang aslinya terulis "The members of the Executive Committee... must not have been previously found guilty of a criminal offence".

Namun di Statuta milik PSSI isinya berubah menjadi "Anggota Komite Eksekutif... harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal pada saat kongres serta berdomisili di wilayah Indonesia."

Syarif Bastaman, anggota DPR yang juga Ketua Badan Bantuan Hukum dan Advokasi DPP PDI Perjuangan menilai, dengan telah menjalani masa hukuman maka Nurdin kembali mendapat rehabilitasi dan hak sipilnya sama dengan orang biasa.

Okelah, Nurdin tetap bisa masuk sebagai kandidat ketua umum (lagi) dalam kongres mendatang, tapi mengapa harus menggugurkan dua pesaing kuatnya? Bukankah itu sikap licik tak mau bertarung secara fair play, sebuah slogan yang selalu dikampanyekan dalam bendera FIFA setiap pertandingan akan berlangsung?

Minggu dinihari, untuk sebuah tugas liputan, saya menulis catatan ini dari sebuah kamar hotel di Makassar. Inilah kampung tempat Nurdin Halid dibesarkan, yang saat ini tak sesolid dulu untuk mati-matian membela slogan sang puang, “Sekali Layar Terkembang, Surut Kita Berpantang”.

Cinta Makassar pada Nurdin bukanlah cinta buta. Mereka cukup sehat untuk tahu mana yang baik dan mana yang keji. Buktinya, PSM Makassar –ikon sepakbola Sulawesi yang dulu pernah dimanajeri Nurdin dan Kadir Halid- memutuskan keluar dari Liga Super ala PSSI dan pindah ke Liga Primer Indonesia bentukan Panigoro cs.

Karena “pengkhianatan” itu, PSSI pun mencoret keanggotaan PSM dan tak lagi punya hak suara dalam kongres nanti.

Malam ini, sebuah pesan masuk dalam inbox grup Facebook saya, “Mari kawan-kawan pecinta sepakbola nasional, suarakan tuntutan kita besok pagi. Mlm ini Ijin demonstrasi sudah turun dari Polda Metro Jaya.

Kumpul di Bundaran HI Jakarta pusat Minggu pagi 20 Feb 2011 Pukul 10.00Wib dress code Baju Timnas/atribut Klub kesayangan. Mohon sampaikan undangan ini melalui media dunia maya, tema aksi damai kita besok adalah "STOP SANDIWARA PSSI!!"

Membayangkan segala akal jahat dan kuatnya perjuangan insan sepakbola Indonesia, segera terngiang-ngiang teriakan penyair Wiji Thukul,

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Makassar, 20 Februari 2011

Kamis, 30 Desember 2010

Mencintai Garuda dengan sederhana

Jojo Raharjo | Photo by Reuter via Yahoo| Apakah Anda termasuk orang yang mencintai seseorang atau sesuatu hanya pada saat berada dalam kondisi menyenangkan saja?

Lalu, apa yang terjadi ketika sayur yang dimasak isteri Anda ternyata kurang asin, ketika nilai raport anak Anda lebih banyak merahnya, ketika klub kegemaran Anda terperosok dalam prestasi buruk, ketika selebritas idola Anda masuk penjara, atau saat organisasi Anda terjerat konflik menyesakkan.

Kalau memang Anda hanya mencintai figur-figur itu dalam kondisi positif, tak ubahnya Anda layak disejajarkan dengan orang-orang yang pada sebulan terakhir disebut sebagai “Mendadak Timnas”.

Mereka yang tak tahu sejarah sepakbola Indonesia tapi tiba-tiba memasang poster Irfan Bachdim di kamar. Mereka yang memuja-muja Cristian Gonzales tanpa pernah berpikir dia adalah pemain bola nan sama sekali tak sempurna. Mereka yang menganggap Markus Haris seolah dialah ‘portiere’ terbaik di negeri ini sepuluh tahun terakhir…

Di Final Piala AFF 2010, harapan itu terlalu berat dibebankan di pundak mereka. Sebesar dan sekencang teriakan belasan supporter yang menyeruduk masuk busway di Halte Karet tadi, saat jarum jam menunjukkan waktu 30 menit menjelang pertandingan dimulai.

“Pak Sopir, cepat, nanti tiketku hangus.Harganya mahal, lho…” “Hooy, cepat, aku nanti duduk di samping SBY…”, “Kalau nggak ada aku, SBY nggak masuk..” “Ayo, yang Indonesia masuk, yang Malaysia turun saja…”

GBK MEMBARA


Sebenarnya asa itu tak pernah salah. Belum pernah kulihat sekeliling stadion ini begitu berlimpah manusia. Layar lebar ditancapkan di penjuru gelanggang olahraga berbentuk “tungku raksasa” yang dibangun Sukarno 48 tahun lalu itu.

Ada penjaja kaos, jagung rebus, siomay dan anak muda berpasang-pasangan dengan tempelan merah putih di dua belah pipi. Inilah pesta rakyat sebenarnya.

Semua memang haus prestasi, haus pahlawan. Dan, ke-14 anak muda yang malam ini bersimbah peluh bukannya tak mau jadi pahlawan. Kapten kesebelasan Firman Utina tentu tak pernah sengaja menendang penalti begitu lemah.

Kiper Markus tak pernah menyangka kembali dipecundangi Mohd Safee Sali. Bek Maman tak pernah menduga, keisengannya menyentuh piala pada permulaan laga di Bukit Jalil berbuah sial, menjadi penyebab dua gol ke gawang timnya.

Sekali di kandang lawan, dan sekali di depan 95 ribu pasang mata yang menyemut di Senayan. Menang 2-1 di rumah tak ada artinya setelah keok 0-3 di negeri tetangga. Dua gol Nasuha dan Ridwan bolehlah jadi penghibur, bahwa setidaknya kita menang dua kali atas Malaysia dalam satu turnamen. Meski akhirnya tak jadi juara.

Tak ada yang disalahkan. Mereka sudah berbuat sekerasnya. Tapi bola yang mahakuasa telah memilih mana tim terbaik. Mereka kalah oleh tim yang mementingkan pembinaan di atas segalanya. Sebuah liga yang tak membolehkan pemain asing mencari nafkah di sana.

TANPA NATURALISASI

Sementara di sini, baik di liga yang sudah ada maupun baru berputar bulan depan, satu tim boleh punya lima pemain impor. Profesionalisme bisa jadi alasan, tapi tentu tak usah menutup mata ada mata pencaharian agen, pengurus, dan mata rantai lain yang tertutup kalau keran ekspatriat itu dihentikan. Mungkin prinsipnya, kalau ada yang benar-benar menguntungkan, bolehlah sekalian diberi hadiah paspor.

“Inilah buah dari keputusan Persatuan Bola Sepak Malaysia, tidak adanya pemain asing membolehkan pemain muda kami lebih berkembang,” kata Krishnasamy Rajagopal dalam jumpa pers usai partai pamungkas.

Pria kelahiran Selangor 54 tahun silam ini tak sedang menggombal, tapi medali emas Sea Games Laos tahun lalu, dan kini Juara Piala AFF membuktikan sistem pembinaan itu.

Malam ini Garuda menang tapi kalah. Tapi, tak selayaknya kita hanya mencintainya ketika mereka berjaya. Kalau tak mau disebut sebagai golongan supporter ‘mendadak timnas’ maka katakanlah kepada lambang Garuda itu.


“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu,"