Tampilkan postingan dengan label Luar Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luar Negeri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2010

Football Evangelist: Maksimalkan Maximu…

Jojo Raharjo

Mengawali catatan football evangelist hari ini, saya tak bisa mengelak untuk mengabarkan euphoria kemenangan Liverpool di Reebok Stadium, kandang Bolton Wanderers, Ahad malam kemarin.

Kemenangan itu menjadi catatan penting karena mengembalikan kepercayaan diri Liverpool yang sempat terperosok ke posisi dua dari dasar klasemen.

Kredit besar patut ditujukan kepada Maxi Rodriguez sang penceplos gol tunggal ke gawang Jussi Jaaskelainen di menit ke-86, saat pemain, pelatih, dan penonton pasrah menerima hasil imbang di laga pekan kesepuluh Liga Primer 2010/2011.

"Lovely ball from Lucas, brilliant backheel from Torres, good goal by Maxi…” teriakan komentator ESPN itu serasa memecahkan kebuntuan tengah malam. Sebuah kemenangan berarti, karena menjadi pemecah telur sebagai kemenangan tandang pertama Liverpool di Liga Inggris sepanjang 2010, dan yang pertama dalam 32 pertandingan Roy Hodgson, termasuk saat pelatih gaek masih membesut Fulham.

Maximiliano Rubén "Maxi" Rodríguez, kelahiran 2 Januari 1981, datang sebagai pemain Liverpool pada 13 Januari tahun ini. Tanpa ada biaya pembelian alias free transfer dari Atletico Madrid, klub Liga Spanyol yang dikapteninya semenjak Atleti ditinggal maskotnya yang terlebih dulu bergabung ke Anfield, Fernando Torres. Maxi pun menandatangani kontrak 3,5 tahun, dan mendapat nomer punggung 17, dengan tugas menyediakan pasokan bola sedap bagi kawannya selama dua musim di Vicente Calderon itu.

Lahir di Rosario, kota terbesar di provinsi Santa Fe, Argentina, Maxi punya nama panggilan ‘La Fiera’ atau “The Fierce”, kira-kira artinya binatang liar yang ganas. Empat tahun silam, di Piala Dunia 2006 Jerman, Maxi mencetak gol spektakuler yang meloloskan Argentina dari babak enam belas besar, menyudahi perlawanan Mexico 2-1 lewat babak perpanjangan waktu.

Saat itu menit ke-98, menerima umpan dari Juan Pablo Sorin, Maxi mengontrol bola dengan dada, sebelum kaki kirinya menghujamkan tendangan voli keras dari luar kotak penalti… wuuusss… bola bersarang di pojok atas gawang Oswaldo Sanchez.

Meski tak secemerlang Piala Dunia 2006 yang melesakkan 3 gol, Maxi selalu tampil dalam 5 kali pertandingan di putaran final Piala Dunia 2010, sebelum anak-anak didik Diego Maradona itu dipulangkan Jerman lewat kekalahan 0-4 di perempatfinal.

Di usia hampir kepala tiga, pria yang juga memiliki kewarganegaraan Italia ini membuktikan dirinya belum habis. Terus menyerang seperti layaknya buasnya hewan di alas, Maxi Rodriguez meninggalkan pesan berarti bagi kehidupan. Kalau bisa menang, mengapa seri? Selama peluit akhir belum ditiup, kenapa tidak mencoba bikin gol?

Jawabannya memang tergantung konsistensi kita dalam kehidupan yang kadang tampak ganas ini. Konsistensi untuk terus tidak menyerah. Konsistensi untuk bernafsu membuat hasil positif. Jadi, sudah “maxi”-kah kita memaksimalkan kemampuan kita?

*Teks foto: Maxi Rodriquez, saat direkrut pelatih Liverpool saat itu, Rafael Benitez
*Tulisan di juga dipublikasikan di http://jojoraharjourney.wordpress.com

Kamis, 21 Agustus 2008

Dicari: Parpol Pro Liga Inggris

“Kalau saja ada partai politik yang mengusahakan disiarkannya Liga Inggris di televisi kita, pasti saya akan memilihnya...” Pesan pendek itu datang dari sahabat saya di Banyumas, Jawa Tengah, mengomentari hilangnya tayangan Liga Inggris di televisi terestrial (baca: tv gratisan) dua musim terakhir.

Musim lalu, Liga Inggris –yang dalam sejarahnya pernah ditayangkan SCTV, TV7 dan Trans 7 tanpa biaya- menjadi hak eksklusif Astro, teve berbayar yang menganggap dirinya cabang dari Astro Malaysia. Astro Malaysia, yang dimiliki Anandha Krishna, salah seorang terkaya di negeri tetangga itu, merupakan pembeli hak siar Liga Inggris wilayah Asia Tenggara dari kroni ESPN dan Star Sports. Jadilah, kita rela dijajah negara tetangga selama setidaknya tiga musim kompetisi Liga Inggris mereka pegang.

Maka, mau tidak mau, sejak Maret lalu, saya berlangganan Astro di kontrakan rumah petak saya di Salemba, Jakarta Pusat. Biaya awalnya hanya mengeluarkan Rp 200 ribu untuk ongkos teknisi memasang parabola. Selain itu, cukup dengan membayar Rp 200 ribu untuk iuran bulanan paket wajib dan paket olahraga. Maklum, sebelum anak saya lahir, saya biasa menyaksikan penampilan Liverpool, klub paling hebat dalam sejarah Liga Inggris itu, dari kafe ke kafe. Bergabung bersama teman-teman Big Reds, kelompok supporter resmi Liverpool di Indonesia.

Hanya sempat menyaksikan sebelas laga Liverpool lewat Astro, Barclays Primier League musim 2007/2008 habis sudah. Saya pun bersiap menunggu musim baru 2008/2009 yang berputar mulai 16 Agustus. Rasa tak sabar muncul. Apalagi “Si Merah” membeli beberapa amunisi baru, dan punggawa Spanyolnya sedang besar kepala setelah menjadi jawara Piala Eropa di Austria dan Swiss.

Tiba-tiba petir itu datang. Bukan dari cederanya si homo Ronaldo atau si tampang kuda Drogba selama tiga bulan pertama Liga Inggris. Tapi karena Astro mengakhiri spekulasi kepemilikan hak tayang mereka atas liga terfavorit di dunia itu. Astro Indonesia, yang berada di bawah bendera PT Direct Vision, pecah kongsi dengan Astronya si Anandha Krishna itu.

Dan keluarlah pengumuman, sebuah televisi berbayar baru bernama Aora TV menjadi pemilik siaran Liga Inggris di tanah air dengan harga sekitar 20 juta dolar Amerika atau Rp 184 miliar. TV kabel bernama resmi PT Karya Megah Adhijaya ini dimiliki Rini M. Soemarno, eks Menteri Perdagangan yang juga kakak si bos Pertamina Arie Soemarno itu. Rini berkongsi dengan saudaranya yang lain, Ongky M. Soemarno, mantan petinggi grup Humpuss. Mereka mengawali kiprah dengan menyabet hak resmi olimpiade, lalu Liga Inggris musim 2008/2009.

Para penggemar bola pun kelimpungan di hari perdana Liga Inggris, apalagi akses berlangganan Aora TV belum didapat. Pencinta Liverpool tak kurang akal dengan menggelar nonton bareng via streaming internet atau menemukan kafe di Blok M yang memiliki akses ke TV Singapura.

Tapi, bagaimana dengan mereka yang sudah terlanjur berlangganan Astro seperti saya? Saya telah menandatangani kontrak, bahwa kalau memutus langganan Astro sebelum satu tahun masa berlangganan, akan kena denda Rp 500 ribu!

Bagaimana pula nasib rekan saya di Banyumas tadi? Atau mungkin di daerah-daerah lain yang tidak terjangkau teve kabel? Atau mungkin terjangkau, tapi tidak memiliki dana untuk berlangganan teve berbayar atau sekedar pergi ke warung internet?

Saat itulah, muncul seruan agar pemerintah menyubsidi tayangan Liga Inggris, dengan alasan “demi kepentingan rakyat banyak”. Sama seperti TVRI akhirnya mengambil alih siaran Oiimpiade Beijing sehingga kita dapat menyaksikan langsung detik-detik Markis Kido dan Hendra Setiawan bersujud saat poin akhir mereka membuahkan emas satu-satunya Indonesia. Tapi, apakah tuntutan agar pemerintah membiayai Liga Inggris tidak terdengar berlebihan?

Ah, seandainya saja para parpol itu ada yang benar-benar peduli soal-soal seperti ini. Dan tidak hanya sibuk mencari artis yang menarik untuk diconteng mukanya di kartu suara. Atau sibuk membuang uang untuk pasang iklan bahwa hidup adalah perbuatan, di mana ada kemauan di situ ada jalan, dan mensyukuri Indonesia tetap berdiri kokoh dari Sabang sampai Merauke (meski tak ada lagi tayangan Liga Inggris gratis...)

Saya membayangkan presiden baru nanti berteriak, “Tidak... Indonesia tetap kokoh berdiri. Sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang tidak ketinggalan aksi Liga Inggris...”

Senin, 30 Juni 2008

Que Viva Espana!

Akhirnya, Spanyol juara juga. Cukup 1-0, dengan gol khas Fernando Torres, penyerang tengah milik Liverpool yang memperdaya Jens Lehmann di menit ke-33.

Ini adalah Piala Eropa ketiga bagi anak-anak La Roja (si merah) setelah di rumah mereka pada 1964 mengalahkan Uni Soviet 2-1. Dua puluh tahun kemudian, ambisi merebut gelar kedua pupus oleh kemenangan 2-0 tuan rumah Perancis, yang saat itu tengah moncer-moncernya era Michel Platini cs. Kini, 24 tahun setelah kekalahan itu, Michel Francois Platini yang sama pula, selaku Presiden UEFA, mengalungkan medali kehormatan kepada Iker Casillas dan kawan-kawannya.

Mengenakan kaos Liverpool merah bernomer sembilan milik Torres saya berada di markas AJI Jakarta di bawah Tugu Pancoran, saat nonton bareng partai Final Piala Eropa ke-13 ini digelar. Sejak awal, banyak yang memperkirakan Michael Ballack akan terbawa sial bila tetap ngotot memakai nomer punggung 13. Dan benar, pengatur serangan Jerman milik Chelsea itu mati kutu dipepet Marcos Senna, darah Brazil di Spanyol.

Spanyol sukses tampil menawan. Bukan dengan cara bertahan, sepert cibiran saat Italia merebut juara dunia dua tahun lalu lewat adu penalti. Selain mematahkan mitos tim yang hanya bagus di babak penyisihan, generasi emas Torres, Villa dan kawan-kawan ini menunjukkan Spanyol kini adalah Spanyol menyerang, bukan lagi tim defensif layaknya di masa Emilio Butragueno, Julio Salinas, dan Andoni Zubizarreta.

Que Viva Espana, Jayalah Spanyol.. Selamat buat Spanyol, selamat buat kemenangan sepakbola indah, selamat buat kita semua…

Minggu, 15 Juni 2008

Belanda Memang Edan..

”Ancene Londo edan,” tulis Revolusi Riza, seorang rekan jurnalis televisi asal Surabaya yang kini menetap di ibukota, dalam pesan pendeknya menjelang subuh, jam 03:15, Sabtu akhir pekan lalu.

Pesan pendek itu dikirimnya menyambut pesta-pora Belanda menghancurkan runner-up tim ayam jago Perancis pantas membuat para pendukungnya bergembira-ria (belakangan ada istilah menarik untuk ini, yakni ’europhoria’). Betapa tidak, dalam Grup C yang dibilang sebagai grup neraka, terdapat tiga tim yang disebut unggulan yakni Belanda, Italia, dan Perancis, ditambah kuda hitam Rumania.

Nah, Belanda baru memainkan dua dari tiga pertandingan penyisihan grup, dua-duanya berakhir dengan kemenangan besar, 3-0 melawan Juara Piala Dunia 2006 Italia, dan 4-1 melawan runner-up Piala Dunia 2006 Perancis. Gol-gol Dirk Kuyt, Arjen Robben, Wesley Sneijder, dan Robie van Persie semakin memantapkan langkah tim oranye sebagai yang terbaik dari grup panas ini.

Belanda memang edan. Dua kemenangan beruntun yang ”tidak main-main” ini seperti melampiaskan kekesalan mereka setelah empat tahun lalu gagal berpartisipasi di Portugal. Saat itu, saya ingat betul, menghabiskan malam-malam Piala Eropa dari kantor AJI Surabaya nan sempit di Ketintang.

Menjadi saksi kandasnya Wayne Rooney dkk lewat adu penalti dari Portugal, yang kemudian melengkapi kisah getir Sven Goran Erriksson: tiga kali membawa Inggris keok dari pelatih yang sama: Luiz Felipe Scolari, kalah dari Brazil 1-2 di Piala Dunia Korea-Jepang 1-2, dan dua kali adu penalti lawan Portugal di Piala Eropa Portugal 2004 serta Piala Dunia Jerman 2006.

Ah, lupakanlah Inggris. Saya memang penggemar berat Inggris, karena itu masih ada sedikit rasa kecewa tidak menyaksikan tim tiga singa tampil di Austria dan Swiss. Tapi, itu toh bukan alasan bagi saya untuk tidak ikut terjebak hingar-bingar turnamen sepakbola yang statusnya selevel di bawah Piala Dunia ini.

Karena itulah, mungkin Anda masih ingat, kolom saya pekan lalu memaparkan ramalan saya tentang skema Juara Piala Eropa kali ini. Anda boleh berharap serius dari prediksi saya. Karena setidaknya, hingga tulisan ini saya buat pada Minggu siang 15 Juni, dua tim unggulan dari tiap grup yang saya prediksikan lolos memiliki peluang besar untuk tidak pulang kampung lebih awal.

Bahkan, analisa saya bahwa dua tim tuan rumah dan tim juara bertahan Piala Eropa akan tersingkir di babak awal, nyata-nyata sudah terbukti 90 persen, tinggal menunggu nasib Austria besok malam. Sebenarnya, magis Piala Eropa ini akan semakin jelas, jika saja saya boleh menambah satu ramalan lagi: Juara Dunia 2006, tim negeri pizza Italia akan pulkam lebih dulu juga.

Senin dini hari nanti, salah satu dari Ceko atau Turki akan terpilih menyertai Portugal di Grup A. Sekali lagi, saya menegaskan, saya memilih Ceko.

Grup B, Kroasia sudah pasti lolos. Siapa pendampingnya? Jerman, Polandia, atau Austria? Atas nama kemeriahan sepakbola, saya mendambakan Jerman mengatasi Austria dan maju ke babak delapan besar.

Grup C, sesuai sms Revo tadi, Belanda sudah jadi kampiun di grup neraka. Saya konsisten memilih tim ayam jago Perancis menaklukkan Italia sebagai pendamping. Tidak usahlah sampai adu penalti, untuk membalaskan kegagalan eksekusi menyakitkan David Trezequet yang mengurungkan Perancis gagal menjadi juara dunia di Jerman.

Grup D, Spanyol sudah lolos. Kalau saja, Anda membaca tabloid Bola kemarin, prediksi saya tentang dua wakil tiap grup nyaris sama persis dengan prediksi Pimred Bola Ian Situmorang di halaman 3. Bedanya di Grup D ini. Bang Ian menjagokan Swedia mendampingi Spanyol, sedangkan saya tetap memilih Rusia –tim yang lolos dari grup kualifikasinya Inggris itu- sebagai pemenang dalam partai paling menentukan grup ini: Swedia versus Rusia, pada Kamis, 19 Juni di Innsbruck, Austria.

Kalau Anda percaya serius ramalan saya, silahkan. Tapi, kalau tidak, juga tidak masalah, karena saya jelas-jelas bukan Roy Suryo atau Dedy Corbuzier yang saling berbalas ramal itu. Saya tegaskan saja, saya akhirnya memilih Spanyol sebagai Juara Piala Eropa kali ini, tak lain karena ada empat pemain Liverpool di sana. Sebuah jumlah fantastis, dan bahkan dua tim kelas berat Spanyol, Real Madrid dan Barcelona, pun tak mampu menyumbang pemain timnas sebanyak itu.

Begitupun kalau saya sepakat dengan sms Revo tadi. Saya mendukung Belanda juga karena ada Dirk Kuyt di sana, seorang lagi perwakilan warga kota Liverpool setelah Ryan Babel tiba-tiba cedera sepekan menjelang kejuaraan. Saya gembira, hingga dua pertandingan awal, Kuyt dan Fernando Torres masing-masing sudah menyumbang satu gol dan sedikitnya satu assist langsung bagi Belanda dan Spanyol.

Teruslah bergulir Europass, hadirkan keedanan-keedanan itu, dan mari kita tunggu, benarkah Torres dan Kuyt akan bertemu di semifinal, untuk selanjutnya, salah seorang di antaranya akan mengangkat tinggi-tinggi Piala Henry Delaunay 2008!

Jumat, 06 Juni 2008

Apa Kata Bola (Bukan Pegangan Taruhan)...

Jojo Raharjo

Piala Eropa kembali menyapa. Bagi mereka yang pusing direcokin dengan pemberitaan dan aksi massa menentang naiknya harga BBM, bisa beristirahat sejenak. Bagi mereka yang jengah dengan gelontoran berita anarkisme Aksi Monas dan kontraversi sosok Munarman, inilah saatnya ”OOT – Object Oriented Turning”.

Tentu dari sejak kick off awal berbunyi di St Jakob Park, Swiss, yang menarik adalah menebak siapa tim tertawa terakhir di partai puncak di Stadion Ernst Happel, 30 Juni mendatang. Nah, saya mencoba menawarkan tebak-tebakan jawara Piala Eropa hingga partai puncak. Sekedar terkaan awal, saya memperkirakan duo tuan rumah Euro 2008 ditambah juara bertahan Yunani akan tersungkur di babak pendahuluan.

Dari Grup A yang dihuni Portugal, Swiss, Ceko, dan Turki, saya menjagokan Portugal keluar sebagai juara didampingi Ceko.

Dari Grup B berisi Austria, Kroasia, Jerman, dan Polandia, saya memfavoritkan Jerman dan Kroasia lolos ke babak kedua.

Di Grup ”Neraka” C milik Italia, Belanda, Perancis, dan Rumania kemungkinan Belanda akan lolos didampingi Perancis.

Di Grup D ada Yunani, Spanyol, Rusia, Swedia, saya meramal Spanyol akan bergandengan dengan wakilnya Rusia.

Alhasil, di perempatfinal akan saling bertemu Portugal melawan Kroasia, Jerman bertemu Ceko, Belanda berhadapan dengan Rusia, dan Spanyol versus Perancis. So, di semifinal Portugal bersua Jerman, dan Spanyol melawan Belanda.

Akhirnya, Spanyol akan tampil bersama Jerman di partai final. Jerman, tim yang paling konsisten di Eropa akan bertemu Spanyol tim yang dikenal sebagai ”macan kertas”. Mimpi saya, Luis Aragones, Carlos Puyol, dan Fernando Torres akan mengangkat piala Henry Delauney dan mengakhiri predikat tim yang selalu gagal di putaran final.

Anda setuju tim Negeri Matador akan sukses jadi juara? Setuju, boleh, tidak juga tidak masalah... Namanya juga bola itu bundar, jadi biarkanlah semua bergulir apa kata bola. Sekedar refreshing, sebelum awal Juli kita memasuki masa kampanye pemilu terpanjang di negeri ini: sembilan bulan lewat sepekan, layaknya seorang ibu sedang mengandung!

Senin, 02 Juni 2008

Lupakanlah Problema, Selamat Datang Piala Eropa…

Bagi Anda yang suka mengotak-atik teori dan praktek ilmu komunikasi politik, hal ikhwal pengalihan isu yang menjadi agenda setting media massa bukanlah hal aneh. Untuk menutupi sebuah pemberitaan yang dinilai kurang menguntungkan penguasa, maka kemudian penguasa mencoba menggulirkan isu lain yang lebih besar, sehingga mendadak menjadi sorotan media dan menenggelamkan isu lama itu. Teori ini benar, meski kadang terlalu berlebihan, untuk mengaitkan satu peristiwa yang kemudian ditumpuki peristiwa besar lainnya.

Sama berlebihannya ketika dalam sebuah aksi solidaritas di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya untuk mengenang meninggalnya aktivis HAM Munir, Oktober 2004 lalu, seorang kawan berujar sinis mengenai meledaknya kantor Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi hanya dua hari setelah Munir ditemukan meninggal di atas pesawat Garuda jurusan Jakarta-Belanda. ”Wah, jangan-jangan bom Kuningan ini untuk mengalihkan perhatian kita dari misteri meninggalnya Cak Munir,” katanya.

Bolehlah Anda menganggap guyonan itu berlebihan. Tapi, tumpuk-menumpuk isu memang bukan hal susah, terutama bagi mereka yang memang menguasai ilmu, dan mempunyai kekuasaan secara riil, bagaimana mengontrol media. Di tengah berita naiknya harga bahan pokok muncullah isu NAMRU, di tengah kenaikan harga BBM berita bergeser ke wacana iklan politik, bantuan kompensasi mahasiswa dan penyerangan polisi ke kampus, belum kelar soal penyerangan polisi ke kampus muncullah aksi anarkis FPI di acara deklarasi ”Menegakkan Indonesia” di Monas, belum tuntas berita penyerangan FPI di Monas, bersiap hadirlah Piala Eropa... Hehe...

Piala Eropa akan menyita perhatian kita antara 7 hingga 30 Juni mendatang. Swiss dan Austria menjadi co-host menjamu 14 kontestan lainnya. Ibarat masakan, hidangan lezat para penggila bola ini sedikit kurang garam tanpa absennya Inggris, negara yang tak hanya mengklaim diri sebagai asal muasal sepakbola, tapi juga memiliki kisah heroik dalam urusan penggalangan massa. Kapten Liverpool Steven Gerrard nyata-nyata mengaku, absen di Piala Eropa tahun ini menyebabkan sakit hati (heartache) mendalam curriculum vitae persepakbolaan.

Seorang sahabat membisikkan alasan humanis di balik kekalahan 2-3 Inggris atas Kroasia di Wembley, sekaligus menamatkan mimpi pasukan Steve McClaren menembus Euro 2008. Saat itu, di tengah hujan deras yang menaungi perjuangan keras Beckham dan kawan-kawan membongkar pertahanan Kroasia, sang pelatih justru enak-enakan duduk di bangku ofisial dengan payung melindungi kepalanya. Ketika kesebelasan Inggris memasuki adegan menegangkan, berkali-kali kamera televisi menangkap McClaren menenggak botol minuman, tanpa sekalipun pantatnya beranjak dari kursi. Ini berbeda dengan tipikal pelatih lain, yang kerap berdiri, lalu berteriak dan hilir-mudik di pinggir lapangan kala timnya mengalami tekanan.

Akhir dari kisah malasnya mantan pelatih The Boro itu sudah kita ketahui: Inggris menanggung malu di kandang, gagal lolos ke Euro, dan McClaren dipecat. Belakangan berhembus kabar, ia mencoba mencari peruntungan lain melatih di negeri kincir angin, jauh dari tanah leluhur yang dikenal sebagai bangsa pekerja keras di lapagan bola. Ya iyalah, dengan fenomena malas bergerak di tengah hujan deras membasahi para pejuangnya seperti itu, klub Inggris mana mau menampungnya?

Tapi, tanpa Inggris, bukan berarti Euro 2008 tidak akan berlangsung. Mari sama-sama kita nikmati perhelatan yang tahun ini digelar untuk yang ke-13 kalinya sejak 1960 pertama kalinya berlangsung di Perancis dan dijuarai Uni Soviet itu.

Satu hal patut Anda catat, sepakbola selalu menghadirkan mujizat, yang tentu saja, tidak mudah ditebak. Namanya juga keajaiban. Masih ingatkah Anda saat 1992 Denmark menjadi juara dengan mengalahkan Jerman 2-0 di final di Swedia? Padahal saat itu tim Dinamit Denmark tampil mendadak dengan menggantikan Yugoslavia yang sebulan sebelum turnamen mendapat skorsing dari FIFA akibat krisis politik di negara itu.

Euro 1996 diawali dengan kampanye ”Football Coming Home” seiring keinginan Inggris menjadi juara di kampung sendiri, tepat 30 tahun setelah mereka menjadi kampiun dunia di Piala Dunia 1966, yang juga berpuncak di Wembley. Endingnya, Alan Shearer dan kawan-kawan menelan pil pahit adu penalti di semifinal, dan gol ajaib pemain pengganti Oliver Bierhoff dalam partai yang pertama kali diberlakukannya sistem sudden deat atau gol emas di perpanjangan waktu.

Euro 2000 yang digelar bersama Belanda dan Belgia sukses membuat Perancis menyandingkan Piala Eropa dengan Piala Dunia yang direbutnya dua tahun sebelumnya di Paris. Inilah masa di mana generasi emas Perancis di bawah kepemimpinan Zinedine Zidane kembali menancapkan kukunya.

Mujizat terbesar tentu, jika Anda belum menderita penyakit lupa ingatan, keberhasilan Yunani menjadi juara empat tahun lalu dengan menyingkirkan tuan rumah Portugal 1-0 di final. Negara liliput dalam jagad bola itu sukses membawa pulang Trophy Henri Delaunay, diabadikan dari nama sekjen pertama UEFA, sebagai oleh-oleh penyelenggaraan Olimpiade di Athena sebulan kemudian.

Jadi, hikmah dan mujizat apa yang akan kita petik dari Euro tahun ini? Spanyol menjadi juara untuk kedua kalinya? Jerman sukses untuk keempat kalinya? Akan muncul negara baru sebagai pencatat sejarah? Atau, jangan-jangan hanya sebagai katarsis dan pengalihan isu dari berbagai kejadiaan menyesakkan di kampung kita? Dan Anda pun ikut-ikutan bersenandung, ”Lupakanlah problema, anggap saja tiada, jangan biarkan terbawa resah di dada, sambutlah Piala Eropa di depan mata...”

Kamis, 01 Mei 2008

Third Time Lucky

Genap sudah dua tim yang bakal berlaga di Final Liga Champions di Stadion Luzhniki Moskow, 21 Mei mendatang. All England Final terjadi dengan bertemunya Manchester United melawan Chelsea, dua tim yang juga sedang berpacu sengit di lintasan perebutan juara Liga Premier Inggris, yang berakhir 11 Mei mendatang.

MU sukses melaju ke partai puncak, yang terakhir mereka alami sembilan tahun lalu, setelah mengalahkan Barcelona 1-0 dalam dua pertandingan. Tendangan geledek Paul Scholes di Old Trafford memupus kesan negatif permainan bertahan tim ‘Setan Merah’ dalam laga semifinal perdana di Nou Camp, sepekan sebelumnya.

Adapun duel yang dilakoni Chelsea jauh lebih dramatis. Setelah meraup gol away dalam partai 1-1 di Anfield, dini hari tadi, tim biru dari London ini menyudahi perjalanan Liverpool lewat keunggulan 3-2 via perpanjangan waktu di Stamford Bridge. Sebuah kemenangan yang memperpanjang rekor sembilan kali tak terkalahkan atas Liverpool di kandang Chelsea, dalam empat tahun di berbagai even kompetisi.

Ini juga menyembuhkan sakit Chelsea yang dua kali dibekuk Liverpool di Semifinal Liga Champions 2005 di Anfield, lewat gol ajaib Luis Garcia, dan 2007, melalui adu penalti nan menyesakkan. “Third time lucky”, ungkapan itu membahana di berbagai media Inggris saat undian mengharuskan Chelsea kembali berjibaku dalam semifinal Liga Champions tahun ini, untuk ketiga kalinya dalam empat musim turnamen paling bergengsi antar klub Eropa itu.

Awalnya, saya tak percaya pada “third time lucky” itu. Apalagi saat di paruh babak kedua, Fernando ‘Si Bocah’ Torres sukses mengakhiri pacekilik gol The Reds, yang sejak 2004 mandul di Stamford Bridge. Kemenangan dan gol terakhir Liverpool di kandang Chelsea dicetak lewat sepekan Bruno Cheyrou, kala The Pool masih ditangani Gerrard Houllier.

“Final Liga Champions ini akan jadi milik Chelsea.” Hampir dua bulan lalu, ungkapan itu datang dari seorang penggemar Liverpool saat kami nonton bareng partai Liga Inggris di Red’s Corner, markas Big Reds, alias kelompok resmi supporter Liverpool di Indonesia. Saat itu, babak perempatfinal Liga Champions pun belum kelar, namun keyakinan sudah tersembul di benak kawan ini. Alasannya sederhana, final ini berlangsung di Moskow, kampung Roman Abramovic, pemilik Chelsea yang menjadi orang kaya di London karena bisnis minyak, namun justru dikejar-kejar tunggakan pajak di negerinya itu.

“Ah, masak sih Liga Champions UEFA bisa diatur seperti itu?” bantahku.

“Lho, jangan salah, Jo. Mafia sepakbola Eropa jauh lebih canggih dari PSSI. Kita ini belum ada apa-apanya,” katanya lagi.

Benar atau tidak, heaven knows. Faktanya, pelatih Liverpool Rafael Benitez merasa kecewa atas panjangnya waktu tambahan dari pengadil Konrad Plautz asal Austria saat laga semifinal pertama, yang membuat John Arne Riise kemudian ‘menyumbang’ sebuah gol bunuh diri sebagai poin plus Chelsea. Fakta lain, di leg kedua, pelanggaran Sammy Hyypia pada Mikhael Ballack dihukum wasit Roberto Rosetti dari Italia dengan eksekusi penalti Lampard, sementara saat poros halang asal Finlandia itu jatuh di kotak terlarang, Liverpool tidak mendapat kompensasi serupa.

Jadi, mana yang benar, “third time lucky”, “mafia sepakbola Eropa”, atau memang Chelsea dan MU adalah dua tim terbaik Eropa tahun ini, sekaligus membalas kesedihan Inggris yang tim nasionalnya gagal berpartisipasi di Piala Eropa di Swiss dan Austria Juni-Juli mendatang?

Ah, ngomong-omong soal kerja keras dan hinggapnya keberuntungan, sebuah pesan masuk ke kotak surat seluler saya, “Pepatah Arab mengatakan Man Jada Wa Jadda, siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan beruntung…”

Selamat menikmati putaran akhir Liga Champions tahun ini, tiga pekan mendatang dan… You’ll Never Walk Alone…